Putra-putri Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di ajang olimpiade matematika. Tim Indonesia yang pertama kali bergabung berhasil meraih satu medali emas, satu perak, dan dua perunggu di kompetisi China West Mathematical Olympiad yang diselenggarakan di Taiyuan, China, akhir Oktober lalu.
Medali emas dipersembahkan Johan Gunardi (SMAK V Penabur Jakarta), sedangkan Stephen Sanjaya (SMAK I Penabur Jakarta) mendapat mendali perak. Adapun medali perunggu dipersembahkan Christa Lorensia S (SMP St Laurensia Tangerang) dan Ivan Koswara (SMAK Bintang Mulia Bandung).
China West Mathematical Olympiad merupakan kompetisi matematika tahunan yang diselenggarakan oleh China Mathematical Olympiad Commitee. Kompetisi ini berlangsung sejak tahun 2002. Peserta tahun ini berjumlah 104 orang. Mereka berasal dari tujuh negara yakni Cina, Hongkong, Makau, Singapura, Kazakhstan, Filipina, dan Indonesia.
Seluruh aktivitas persiapan tim dilakukan di bawah naungan Surya Institute yang diketuai Fisikawan Yohanes Surya. Lidya dari Surya Institute, di Jakarta, Selasa (2/11/2010), mengatakan tim pelajar Indoensia telah kembali ke Tanah Air hari ini.
WELLCOME
Wa'alaikum salam.
Selamat Datang
Jangan pernah lewatkan isi-isi artikel yang menarik dalam Blog ini. Kasih saran yang membangun. Sisipkan Komentar Kamu di setiap artikel.
Terima Kasih.
Selamat menbaca........
Selamat Datang
Jangan pernah lewatkan isi-isi artikel yang menarik dalam Blog ini. Kasih saran yang membangun. Sisipkan Komentar Kamu di setiap artikel.
Terima Kasih.
Selamat menbaca........
Mengenai Saya
Tampilkan postingan dengan label kompas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompas. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 November 2010
Selasa, 12 Oktober 2010
Olimpiade Internasional Pelajar Indonesia di Olimpiade Astronomi
JAKARTA, darwiz19 - Sebanyak lima pelajar sekolah menengah atas (SMA) Indonesia berkompetisi pada penyelenggaraan Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika mulai pekan ini hingga Selasa (21/9/2010) di Beijing, Cina. Tim nasional Indonesia itu bakal bersaing dengan 23 tim lainnya dari 21 negara.
Mereka adalah Raymond Djajalaksana (SMA Ipeka Sunter, Jakarta), Anas Maulidi Utama (SMAN 5 Surabaya), Hans Triar Sutanto (SMAK 2 Petra Surabaya), Ahmad Raditya Cahya (SMAN 1 Yogyakarta), dan Widya Ageng Setyo Tetuko (SMA Taruna Nusantara Magelang).
Suryadi Siregar, pimpinan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, saingan berat Indonesia adalah Korea Selatan, India, Cina, Rusia, serta Iran. Pada olimpiade ini, tes yang dijalani yakni teori, pengamatan, praktik pengolahan data, dan kompetisi tim.
Tahun ini, kompetisi antartim merupakan pertandingan yang baru. Pada penyelenggaraan yang lalu, kompetisi tim hanya sebagai pameran dan uji coba.
Selain berkompetisi, peserta juga mengikuti kegiatan ilmiah, antara lain mendengarkan ceramah ilmiah dari astronom profesional dan wisata ilmiah. Kegiatan ini dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada para peserta tentang simulasi astronomi yang mirip dengan langit sesungguhnya.
Mereka adalah Raymond Djajalaksana (SMA Ipeka Sunter, Jakarta), Anas Maulidi Utama (SMAN 5 Surabaya), Hans Triar Sutanto (SMAK 2 Petra Surabaya), Ahmad Raditya Cahya (SMAN 1 Yogyakarta), dan Widya Ageng Setyo Tetuko (SMA Taruna Nusantara Magelang).
Suryadi Siregar, pimpinan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, saingan berat Indonesia adalah Korea Selatan, India, Cina, Rusia, serta Iran. Pada olimpiade ini, tes yang dijalani yakni teori, pengamatan, praktik pengolahan data, dan kompetisi tim.
Tahun ini, kompetisi antartim merupakan pertandingan yang baru. Pada penyelenggaraan yang lalu, kompetisi tim hanya sebagai pameran dan uji coba.
Selain berkompetisi, peserta juga mengikuti kegiatan ilmiah, antara lain mendengarkan ceramah ilmiah dari astronom profesional dan wisata ilmiah. Kegiatan ini dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada para peserta tentang simulasi astronomi yang mirip dengan langit sesungguhnya.
Olimpiade Matematika dan Sains Indonesia Incar 4 Medali Emas
DENPASAR (darwiz19)- Menghadapi pelaksanaan Olimpiade Matematika dan Sains Internasional tingkat sekolah dasar yang berlangsung di Denpasar, Bali, 10-16 Oktober 2010 mendatang, kontingen Indonesia menargetkan 4 medali emas. Selain medali, Indonesia juga berharap mampu menjadi juara umum di rumah sendiri.
“Kalau dengan empat medali emas itu kita bisa jadi juara umum, ya, kita harus bersyukur,” ujar Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional Suyanto usai acara pembukaan, Senin (11/10/2010).
Kontingen Indonesia yang diwakili oleh 44 orang ini terdiri dari 1 ketua tim, 19 peserta Matematika, 18 peserta Sains, dan 6 pengajar akan beradu pintar dengan 8 tim dari negara lain, yakni Malaysia, Singapura, Filipina, Taiwan, Thailand, Iran, Srilanka, serta Brunei Darussalam.
Pada olimpiade kali ini para peserta akan diberi tes teori dan eksplorasi untuk Matematika dan tes teori dan eksperimen pada kategori Sains. Suyanto berharap, dengan mengikuti olimpiade ini kecintaan terhadap Matematika dan Sains dapat dipupuk sejak usia dini.
“Kita berharap kecintaan terhadap Matematika bisa ditumbuhkan sejak dini. Selain itu, tujuan lomba ini adalah bagaimana peserta didik mampu merelasikan matematika dengan dunia kehidupan mereka,” jelasnya.
“Kalau dengan empat medali emas itu kita bisa jadi juara umum, ya, kita harus bersyukur,” ujar Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional Suyanto usai acara pembukaan, Senin (11/10/2010).
Kontingen Indonesia yang diwakili oleh 44 orang ini terdiri dari 1 ketua tim, 19 peserta Matematika, 18 peserta Sains, dan 6 pengajar akan beradu pintar dengan 8 tim dari negara lain, yakni Malaysia, Singapura, Filipina, Taiwan, Thailand, Iran, Srilanka, serta Brunei Darussalam.
Pada olimpiade kali ini para peserta akan diberi tes teori dan eksplorasi untuk Matematika dan tes teori dan eksperimen pada kategori Sains. Suyanto berharap, dengan mengikuti olimpiade ini kecintaan terhadap Matematika dan Sains dapat dipupuk sejak usia dini.
“Kita berharap kecintaan terhadap Matematika bisa ditumbuhkan sejak dini. Selain itu, tujuan lomba ini adalah bagaimana peserta didik mampu merelasikan matematika dengan dunia kehidupan mereka,” jelasnya.
Kurikulum Metode Asing Belum Tentu Sesuai
Metode-metode pengajaran yang dipraktikkan sekolah akan lebih baik jika tidak terlalu sering berubah apalagi jika sampai digantikan dengan metode asing yang diadopsi mentah-mentah.
Metode pengajaran yang sukses di negara lain belum tentu sesuai dengan budaya dan karakter di Indonesia. Penggunaan suatu metodologi pengajaran tidak bisa gegabah karena metodologi akan berpengaruh pada cara berpikir, karakter, dan budaya suatu bangsa.
Hal ini dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di hadapan guru-guru di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (11/10/) kemarin. "Kita harus lebih sering introspeksi. Jangan mudah serta merta mengambil dari luar dan dipakai di Indonesia. Ada syarat-syarat khusus yang tidak selamanya cocok," ujarnya.
Imbauan ini disampaikan karena ada kekhawatiran pada banyaknya guru dan sekolah yang terlalu sering mengganti metode pengajaran dengan metode asing terutama yang dilakukan guru-guru yang baru pulang studi banding di negara lain. "Banyak teman-teman guru yang senang coba-coba metode asing yang mereka pelajari ketika dapat kesempatan ke luar negeri. Tapi hanya coba-coba saja," kata Sugeng, guru SMA di Balikpapan.
Penyesuaian metode pengajaran asing di sekolah terutama juga harus dilakukan sekolah Rintisan Sekolah Berta raf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang membeli lisensi akreditasi dari luar negeri seperti Cambridge. Jika metode asing dipraktikkan mentah-mentah tanpa disesuaikan terlebih dahulu dengan karakter budaya di dalam negeri, di khawatirkan akan terbentuk siswa yang tidak lagi mencerminkan karakter dan budaya Indonesia.
Ide RSBI/SBI juga bukan begitu. Apa yang dikembangkan di Indonesia sesuai dengan standar internasional. "Jadi, tidak selamanya dari luar negeri kita tarik ke sini tetapi bisa juga produk kita diakui sehingga memenuhi standar yang dikembangkan internasional," kata Nuh.
Metode pengajaran yang sukses di negara lain belum tentu sesuai dengan budaya dan karakter di Indonesia. Penggunaan suatu metodologi pengajaran tidak bisa gegabah karena metodologi akan berpengaruh pada cara berpikir, karakter, dan budaya suatu bangsa.
Hal ini dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di hadapan guru-guru di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (11/10/) kemarin. "Kita harus lebih sering introspeksi. Jangan mudah serta merta mengambil dari luar dan dipakai di Indonesia. Ada syarat-syarat khusus yang tidak selamanya cocok," ujarnya.
Imbauan ini disampaikan karena ada kekhawatiran pada banyaknya guru dan sekolah yang terlalu sering mengganti metode pengajaran dengan metode asing terutama yang dilakukan guru-guru yang baru pulang studi banding di negara lain. "Banyak teman-teman guru yang senang coba-coba metode asing yang mereka pelajari ketika dapat kesempatan ke luar negeri. Tapi hanya coba-coba saja," kata Sugeng, guru SMA di Balikpapan.
Penyesuaian metode pengajaran asing di sekolah terutama juga harus dilakukan sekolah Rintisan Sekolah Berta raf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang membeli lisensi akreditasi dari luar negeri seperti Cambridge. Jika metode asing dipraktikkan mentah-mentah tanpa disesuaikan terlebih dahulu dengan karakter budaya di dalam negeri, di khawatirkan akan terbentuk siswa yang tidak lagi mencerminkan karakter dan budaya Indonesia.
Ide RSBI/SBI juga bukan begitu. Apa yang dikembangkan di Indonesia sesuai dengan standar internasional. "Jadi, tidak selamanya dari luar negeri kita tarik ke sini tetapi bisa juga produk kita diakui sehingga memenuhi standar yang dikembangkan internasional," kata Nuh.
Rabu, 20 Januari 2010
Facebook Berikan Beasiswa
Setiap hari Facebook selalu berhadapan dengan permasalahan yang begitu kompleks. Pemilik situs jejaring ini pun yakin bahwa kedekatan hubungan mereka dengan para akademisi akan mampu menuntaskan kompleksitas masalah tersebut ke akar-akarnya.
Untuk itu, sebagai komitmen Facebook ke depan dalam hubungannya dengan dunia pendidikan, Facebook memperkenalkan program yang khusus untuk memberi dukungan beasiswa bagi mahasiswa tahun akademik 2010/2011.
Skema program beasiswa tersebut dibuka untuk mereka yang tertarik menekuni bidang Ekonomi Internet, seperti teori penjualan yang berkaitan dengan iklan penjualan online, Ilmu Komputasi Sosial (Social Computing), Sistem Komputer, Data Mining-Machine Learning, dan Sistem Perolehan Informasi.
Beberapa kriteria utama bagi pendaftar beasiswa ini antara lain adalah mahasiswa program doktoral yang sedang melakukan penelitian, berlatar belakang akademis jurusan Ilmu Komputer, Teknik Komputer, Teknik Listrik, dan beberapa bidang terkait lainnya.
Lebih jauh mengenai informasi beasiswa ini bisa diakses di www.facebook.com/careers/fellowship.php. Aplikasi untuk beasiswa ini ditutup 15 Februari 2010.
Untuk itu, sebagai komitmen Facebook ke depan dalam hubungannya dengan dunia pendidikan, Facebook memperkenalkan program yang khusus untuk memberi dukungan beasiswa bagi mahasiswa tahun akademik 2010/2011.
Skema program beasiswa tersebut dibuka untuk mereka yang tertarik menekuni bidang Ekonomi Internet, seperti teori penjualan yang berkaitan dengan iklan penjualan online, Ilmu Komputasi Sosial (Social Computing), Sistem Komputer, Data Mining-Machine Learning, dan Sistem Perolehan Informasi.
Beberapa kriteria utama bagi pendaftar beasiswa ini antara lain adalah mahasiswa program doktoral yang sedang melakukan penelitian, berlatar belakang akademis jurusan Ilmu Komputer, Teknik Komputer, Teknik Listrik, dan beberapa bidang terkait lainnya.
Lebih jauh mengenai informasi beasiswa ini bisa diakses di www.facebook.com/careers/fellowship.php. Aplikasi untuk beasiswa ini ditutup 15 Februari 2010.
Beasiswa StuNed dari Pemerintah Belanda....
Anda bekerja di sektor-sektor yang terkait dengan pembangunan Indonesia dan ingin meningkatkan kapasitas keilmuan? Berani berkomitmen terhadap kemajuan Indonesia dan bersedia mengaplikasikan ilmu yang didapatkan untuk pembangunan Indonesia?
StuNed atau Studeren in Nederland atau studi di Belanda mungkin bisa menjadi jawabannya. Karena StuNed merupakan program beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada para mid-career professional Indonesia.
Setiap tahunnya, antara 150-200 beasiswa penuh ditawarkan kepada mereka yang berkecimpung dalam pembangunan Indonesia. Program ini bertujuan membantu pembangunan Indonesia melalui peningkatan sumber daya manusia pada institusi-institusi di Indonesia.
Wanita diprioritaskan
Kandidat yang dicari untuk mengisi beasiswa ini adalah mereka yang berkomitmen tinggi meningkatkan sumber daya manusia dan kapasitas institusi dari mitra Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, memperkuat kerja sama bilateral antara Indonesia dan Belanda dan juga meningkatkan efektivitas dari program-program kerja yang sedang berjalan.
Hanya saja, prioritas beasiswa ini akan diberikan kepada calon peserta yang berasal dari organisasi-organisasi lokal yang bermitra dengan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda seperti departemen, lembaga pemerintah non departemen, pemerintah daerah, LSM, bahkan dari sektor swasta yang memiliki keterkaitan erat dengan isu-isu pembangunan yang relevan dengan Multi-Annual Strategic Plan (MASP) 2008- 2011 Kedutaan Besar Kerajaan Belanda.
Hanya pria? Tidak. Karena beasiswa ini juga diprioritaskan diberikan kepada para kandidat perempuan dan calon peserta dari luar Jawa.
Siapa kandidatnya?
Beasiswa StuNed diperuntukkan khusus untuk para profesional Indonesia dengan masa kerja minimum dua tahun di tempat kerja terakhir, bukan masa kerja kumulatif. Hanya, sektor-sektor yang diprioritaskan dari program beasiswa ini adalah pendidikan, good governance, iklim investasi, manajemen air, penyediaan air bersih dan sanitasi, lingkungan (fokus pada gambut), serta energi berkelanjutan.
Setelah menyelesaikan studi di Belanda, penerima beasiswa diharuskan kembali ke Indonesia. Adalah kewajiban penerima beasiswa untuk meneruskan komitmennya bagi pembangunan melalui institusi tempat mereka bekerja.
Persyaratan Umum
Selain warga negara Indonesia dengan pendidikan minimal S1 dari universitas di Indonesia, pendaftar harus dapat menunjukkan bukti prestasi akademik dengan IPK minimal 2,75.
Dengan pengalaman kerja setelah lulus S-1 minimal 2 tahun di institusi terakhir; pendaftar harus berlatar belakang pendidikan atau bidang kerja yang sesuai dengan pilihan studi program master pilihannya.
Tertarik? Saat ini, pendaftaran beasiswa StuNed sudah dibuka dan batas akhir pendaftarannya sampai 15 Maret 2010 mendatang. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/informasi-dalam-bahasa/beasiswa/stuned.
StuNed atau Studeren in Nederland atau studi di Belanda mungkin bisa menjadi jawabannya. Karena StuNed merupakan program beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Belanda kepada para mid-career professional Indonesia.
Setiap tahunnya, antara 150-200 beasiswa penuh ditawarkan kepada mereka yang berkecimpung dalam pembangunan Indonesia. Program ini bertujuan membantu pembangunan Indonesia melalui peningkatan sumber daya manusia pada institusi-institusi di Indonesia.
Wanita diprioritaskan
Kandidat yang dicari untuk mengisi beasiswa ini adalah mereka yang berkomitmen tinggi meningkatkan sumber daya manusia dan kapasitas institusi dari mitra Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, memperkuat kerja sama bilateral antara Indonesia dan Belanda dan juga meningkatkan efektivitas dari program-program kerja yang sedang berjalan.
Hanya saja, prioritas beasiswa ini akan diberikan kepada calon peserta yang berasal dari organisasi-organisasi lokal yang bermitra dengan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda seperti departemen, lembaga pemerintah non departemen, pemerintah daerah, LSM, bahkan dari sektor swasta yang memiliki keterkaitan erat dengan isu-isu pembangunan yang relevan dengan Multi-Annual Strategic Plan (MASP) 2008- 2011 Kedutaan Besar Kerajaan Belanda.
Hanya pria? Tidak. Karena beasiswa ini juga diprioritaskan diberikan kepada para kandidat perempuan dan calon peserta dari luar Jawa.
Siapa kandidatnya?
Beasiswa StuNed diperuntukkan khusus untuk para profesional Indonesia dengan masa kerja minimum dua tahun di tempat kerja terakhir, bukan masa kerja kumulatif. Hanya, sektor-sektor yang diprioritaskan dari program beasiswa ini adalah pendidikan, good governance, iklim investasi, manajemen air, penyediaan air bersih dan sanitasi, lingkungan (fokus pada gambut), serta energi berkelanjutan.
Setelah menyelesaikan studi di Belanda, penerima beasiswa diharuskan kembali ke Indonesia. Adalah kewajiban penerima beasiswa untuk meneruskan komitmennya bagi pembangunan melalui institusi tempat mereka bekerja.
Persyaratan Umum
Selain warga negara Indonesia dengan pendidikan minimal S1 dari universitas di Indonesia, pendaftar harus dapat menunjukkan bukti prestasi akademik dengan IPK minimal 2,75.
Dengan pengalaman kerja setelah lulus S-1 minimal 2 tahun di institusi terakhir; pendaftar harus berlatar belakang pendidikan atau bidang kerja yang sesuai dengan pilihan studi program master pilihannya.
Tertarik? Saat ini, pendaftaran beasiswa StuNed sudah dibuka dan batas akhir pendaftarannya sampai 15 Maret 2010 mendatang. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/informasi-dalam-bahasa/beasiswa/stuned.
Sabtu, 10 Oktober 2009
Hidup Batik Indonesia
Setelah wayang dan keris diakui UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia, maka batik pun kini mendapatkan pengakuan itu.
Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO) sudah mengakui wayang pada tahun 2003 dan mengakui keris pada 2005.
"Pengakuan UNESCO terhadap batik itu merupakan proses panjang yang melalui pengujian dan sidang tertutup. Sebelumnya, pada 11-14 Mei 2009 telah dilakukan sidang tertutup dalam penentuan di hadapan enam negara di Paris," kata Menkominfo Muhammad Nuh beberapa waktu lalu.
Untuk tanggal 2 Oktober di Abu Dhabi itu, kata Nuh yang juga Menteri Ad-Interim Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) itu, merupakan sidang terbuka sebagai acara pengukuhan.
Dalam keterangan pers Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menyebutkan hari kedua sidang UNESCO "Intergovernmental Committee for Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage" di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, antara lain membahas evaluasi nominasi inskripsi pada Daftar Representatif mengenai Budaya bukan benda Warisan Manusia.
"Dalam ’Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity’ itu, Batik Indonesia disebutkan dalam Rancangan Keputusan 13.44 yang diharapkan dapat disahkan pada sidang akhir pada 2 Oktober 2009 malam," kata Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar, Tjetjep Suparman, yang memimpin delegasi Indonesia pada sidang ke-4 komite itu.
Lantas, bagaimana dengan batik yang konon juga ada di negara lain seperti Malaysia, Jepang, China, India, Afrika, Jerman, Belanda, dan negara lainnya?
"Batik Indonesia berbeda dengan batik milik Malaysia dan China, karena negara ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki negara lain," kata Ketua Asosiasi Tenun, Batik, dan Bordir Jawa Timur, Erwin Sosrokusumo.
Menurut dia, batik asli Indonesia bukan produksi pabrikan (printing/cap/kain bermotif batik), meski ada pula batik cap yang juga termasuk batik khas Indonesia.
"Batik Indonesia sebenarnya sudah dikenal bangsa lain sejak zaman Kerajaan Jenggala, Airlangga, dan Majapahit, namun saat itu bahan utamanya didatangkan dari China. Penyebabnya, kain sebagai bahan dasar membatik sulit diperoleh di Indonesia. Untuk itu, batik memang harus diklaim Indonesia dan bukan negara lain yang mengaku-aku," katanya.
Menanggapi pengakuan tersebut, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Arifin T. Hariadi, merasa bangga karena batik sebagai warisan nenek moyang Indonesia bisa memperoleh pengakuan internasional.
"Kerajinan Batik Indonesia sudah sepantasnya diangkat menjadi warisan budaya dunia. Untuk itu, bangsa Indonesia tidak perlu khwatir jika negara lain mengakui batik menjadi miliknya," katanya.
Menurut dia, klaim yang dilakukan Malaysia dan China dengan alasan memproduksi batik, tentu perlu dilihat bahwa produk itu bukan batik sebenarnya alias "printing" (kain bermotif batik produksi pabrik).
"Kami bersyukur konsep batik kita sulit ditiru karena memiliki ciri khas tertentu, karena itu dengan adanya pengakuan dunia itu, maka seluruh lapisan masyarakat Indonesia ke depan, khususnya Jatim, harus lebih mencintai produk batik dan produk dalam negeri. Minimal mereka berkenan memakai batik satu kali dalam sepekan," katanya.
Seni batik di Jawa Timur berkembang di kawasan pesisir, seperti halnya penyebaran Agama Islam di ranah Jawa dengan Wali Songo-nya (lima di antaranya berada di Jatim), semuanya berawal dari pesisir.
Di Tuban dengan Gedog-nya, di Lamongan dengan Pacirannya, dan Surabaya dengan batik Mangrove, Sidoarjo dikenal dengan batik Jetis serta Kenongo, di Madura maupun Banyuwangi dengan Gajah Uling-nya, semuanya berada di wilayah Pantai Utara (Pantura), sedangkan di Selatan berkembang Batik Baronggung di Tulungagung.
Motif batik tulis pesisir Jatim, sarat dengan nuansa flora dan fauna maupun benda yang memadukan budaya lokal, Islam dan Tiongkok maupun Eropa. Begitu juga perwarnaan mengadalkan bahan-bahan alami (tumbuhan).
Bila masyarakat sudah mencintai dengan memasyarakatkan batik, kata Arifin, pertumbuhan angka penjualan perajin batik, baik Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Kecil Menengah (UKM), akan semakin meningkat, apalagi di Jatim sekarang sudah ada 191 sentra IKM, sedangkan di sektor batik dan bordir ada 5.926 unit.
Hari Batik
Terkait ikhtiar menumbuhkan kecintaan terhadap batik itulah agaknya usul Universitas Kristen Petra (UKP) Jawa Timur untuk menjadikan 2 Oktober --tanggal pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan pusaka budaya dunia (world heritage) dari Indonesia-- menjadi "Hari Batik Nasional" patut didukung.
"Pengakuan UNESCO pada tanggal 2 Oktober itu merupakan peluang untuk didorong menjadi Hari Batik Nasional," kata Ketua Komunitas Batik Surabaya (KiBaS), Lintu Tulistyantoro.
Menurut dosen Desain Interior pada Fakultas Seni dan Desain Komunikasi Visual UKP itu, Hari Batik Nasional itu perlu dicanangkan untuk mengingatkan masyarakat bahwa batik telah menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia pada tanggal itu.
"Untuk memperingatinya, kita tidak harus mengenakan baju batik. Namun, untuk menghargai warisan budaya itu sebaiknya kita mengenakan baju batik pada Hari Batik Nasional," katanya, didampingi Kepala Perpustakaan UKP Surabaya, Aditya Nugraha.
Ia mengakui motif yang mirip batik juga ada di Jepang, China, India, Afrika, Jerman, Belanda, Malaysia, dan negara lainnya. Namun, teknik pembuatan dan budaya pertumbuhan batik di Indonesia memiliki kekhasan.
"Batik di Indonesia merupakan teknik membuat motif kain dengan menorehkan canting berisi lilin, sedangkan di negara lain hanya merupakan cetak atau cap (print) bermotif batik, teknologi batik, dan sebagainya," katanya.
Apalagi, kata pria yang meraih Master of Design dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2004 itu, pertumbuhan batik di Indonesia berkembang seiring budaya yang ada, sedangkan di negara lain lebih bersifat industri.
"Saya sudah mengecek kepada seorang rekan di UNESCO tentang alasan menjadikan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, ternyata pengakuan UNESCO itu sudah melalui riset bertahun-tahun. Batik di Indonesia ada motif dan filosofi, bukan sekadar produksi," katanya.
Secara terpisah, sosiolog Islam Prof Dr H. Nur Syam, M.Si. menilai, Hari Batik Nasional itu sangat penting, tetapi pakaian batik hendaknya tidak dipaksakan untuk dipakai pada hari itu. "bergantung konvensi (kesepakatan)," ujarnya.
Ia menegaskan, baju batik itu jangan menjadi sebuah pemaksaan, tetapi biarkan menjadi konvensi, seperti pegawai Departemen Dalam Negeri yang mengenakan baju batik pada hari Kamis dan Jumat, atau pegawai dari instansi lain yang berbatik-ria pada setiap hari Jumat.
"Itu bukan instruksi resmi dan tertulis, tetapi menjadi konvensi. Kalau ada Hari Batik Nasional, saya juga setuju," kata rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Terlepas dari itu, UKP akan menyambut pengakuan UNESCO terhadap batik itu dengan menggelar karnaval batik pada tanggal 2 Oktober itu yang dilepas dan diikuti Wali Kota Surabaya Bambang D.H. mulai dari halaman gedung T kampus UKP hingga ke gedung P dengan melewati Jalan Raya Siwalankerto.
Sementara itu, Jurusan Arsitektur Interior di Universitas Ciputra (UC) Surabaya juga merayakan pengakuan UNESCO terhadap batik itu dengan menggelar pameran produk desain batik dan mewajibkan dosen, karyawan, dan mahasiswa mengenakan baju batik pada tanggal itu.
Gubernur Jatim, Soekarwo dalam waktu dekat mengeluarkan surat edaran mengenai kewajiban memakai batik bagi kalangan PNS di Provinsi "Bumi Majapahit", Sebagai tindakan pendahuluan, kebijakan itu akan diterapkan mulai 12 Oktober 2009, bersamaan dengan puncak peringatan Hari Jadi Pemprov.
Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO) sudah mengakui wayang pada tahun 2003 dan mengakui keris pada 2005.
"Pengakuan UNESCO terhadap batik itu merupakan proses panjang yang melalui pengujian dan sidang tertutup. Sebelumnya, pada 11-14 Mei 2009 telah dilakukan sidang tertutup dalam penentuan di hadapan enam negara di Paris," kata Menkominfo Muhammad Nuh beberapa waktu lalu.
Untuk tanggal 2 Oktober di Abu Dhabi itu, kata Nuh yang juga Menteri Ad-Interim Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) itu, merupakan sidang terbuka sebagai acara pengukuhan.
Dalam keterangan pers Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menyebutkan hari kedua sidang UNESCO "Intergovernmental Committee for Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage" di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, antara lain membahas evaluasi nominasi inskripsi pada Daftar Representatif mengenai Budaya bukan benda Warisan Manusia.
"Dalam ’Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity’ itu, Batik Indonesia disebutkan dalam Rancangan Keputusan 13.44 yang diharapkan dapat disahkan pada sidang akhir pada 2 Oktober 2009 malam," kata Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar, Tjetjep Suparman, yang memimpin delegasi Indonesia pada sidang ke-4 komite itu.
Lantas, bagaimana dengan batik yang konon juga ada di negara lain seperti Malaysia, Jepang, China, India, Afrika, Jerman, Belanda, dan negara lainnya?
"Batik Indonesia berbeda dengan batik milik Malaysia dan China, karena negara ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki negara lain," kata Ketua Asosiasi Tenun, Batik, dan Bordir Jawa Timur, Erwin Sosrokusumo.
Menurut dia, batik asli Indonesia bukan produksi pabrikan (printing/cap/kain bermotif batik), meski ada pula batik cap yang juga termasuk batik khas Indonesia.
"Batik Indonesia sebenarnya sudah dikenal bangsa lain sejak zaman Kerajaan Jenggala, Airlangga, dan Majapahit, namun saat itu bahan utamanya didatangkan dari China. Penyebabnya, kain sebagai bahan dasar membatik sulit diperoleh di Indonesia. Untuk itu, batik memang harus diklaim Indonesia dan bukan negara lain yang mengaku-aku," katanya.
Menanggapi pengakuan tersebut, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Arifin T. Hariadi, merasa bangga karena batik sebagai warisan nenek moyang Indonesia bisa memperoleh pengakuan internasional.
"Kerajinan Batik Indonesia sudah sepantasnya diangkat menjadi warisan budaya dunia. Untuk itu, bangsa Indonesia tidak perlu khwatir jika negara lain mengakui batik menjadi miliknya," katanya.
Menurut dia, klaim yang dilakukan Malaysia dan China dengan alasan memproduksi batik, tentu perlu dilihat bahwa produk itu bukan batik sebenarnya alias "printing" (kain bermotif batik produksi pabrik).
"Kami bersyukur konsep batik kita sulit ditiru karena memiliki ciri khas tertentu, karena itu dengan adanya pengakuan dunia itu, maka seluruh lapisan masyarakat Indonesia ke depan, khususnya Jatim, harus lebih mencintai produk batik dan produk dalam negeri. Minimal mereka berkenan memakai batik satu kali dalam sepekan," katanya.
Seni batik di Jawa Timur berkembang di kawasan pesisir, seperti halnya penyebaran Agama Islam di ranah Jawa dengan Wali Songo-nya (lima di antaranya berada di Jatim), semuanya berawal dari pesisir.
Di Tuban dengan Gedog-nya, di Lamongan dengan Pacirannya, dan Surabaya dengan batik Mangrove, Sidoarjo dikenal dengan batik Jetis serta Kenongo, di Madura maupun Banyuwangi dengan Gajah Uling-nya, semuanya berada di wilayah Pantai Utara (Pantura), sedangkan di Selatan berkembang Batik Baronggung di Tulungagung.
Motif batik tulis pesisir Jatim, sarat dengan nuansa flora dan fauna maupun benda yang memadukan budaya lokal, Islam dan Tiongkok maupun Eropa. Begitu juga perwarnaan mengadalkan bahan-bahan alami (tumbuhan).
Bila masyarakat sudah mencintai dengan memasyarakatkan batik, kata Arifin, pertumbuhan angka penjualan perajin batik, baik Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Kecil Menengah (UKM), akan semakin meningkat, apalagi di Jatim sekarang sudah ada 191 sentra IKM, sedangkan di sektor batik dan bordir ada 5.926 unit.
Hari Batik
Terkait ikhtiar menumbuhkan kecintaan terhadap batik itulah agaknya usul Universitas Kristen Petra (UKP) Jawa Timur untuk menjadikan 2 Oktober --tanggal pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan pusaka budaya dunia (world heritage) dari Indonesia-- menjadi "Hari Batik Nasional" patut didukung.
"Pengakuan UNESCO pada tanggal 2 Oktober itu merupakan peluang untuk didorong menjadi Hari Batik Nasional," kata Ketua Komunitas Batik Surabaya (KiBaS), Lintu Tulistyantoro.
Menurut dosen Desain Interior pada Fakultas Seni dan Desain Komunikasi Visual UKP itu, Hari Batik Nasional itu perlu dicanangkan untuk mengingatkan masyarakat bahwa batik telah menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia pada tanggal itu.
"Untuk memperingatinya, kita tidak harus mengenakan baju batik. Namun, untuk menghargai warisan budaya itu sebaiknya kita mengenakan baju batik pada Hari Batik Nasional," katanya, didampingi Kepala Perpustakaan UKP Surabaya, Aditya Nugraha.
Ia mengakui motif yang mirip batik juga ada di Jepang, China, India, Afrika, Jerman, Belanda, Malaysia, dan negara lainnya. Namun, teknik pembuatan dan budaya pertumbuhan batik di Indonesia memiliki kekhasan.
"Batik di Indonesia merupakan teknik membuat motif kain dengan menorehkan canting berisi lilin, sedangkan di negara lain hanya merupakan cetak atau cap (print) bermotif batik, teknologi batik, dan sebagainya," katanya.
Apalagi, kata pria yang meraih Master of Design dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2004 itu, pertumbuhan batik di Indonesia berkembang seiring budaya yang ada, sedangkan di negara lain lebih bersifat industri.
"Saya sudah mengecek kepada seorang rekan di UNESCO tentang alasan menjadikan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, ternyata pengakuan UNESCO itu sudah melalui riset bertahun-tahun. Batik di Indonesia ada motif dan filosofi, bukan sekadar produksi," katanya.
Secara terpisah, sosiolog Islam Prof Dr H. Nur Syam, M.Si. menilai, Hari Batik Nasional itu sangat penting, tetapi pakaian batik hendaknya tidak dipaksakan untuk dipakai pada hari itu. "bergantung konvensi (kesepakatan)," ujarnya.
Ia menegaskan, baju batik itu jangan menjadi sebuah pemaksaan, tetapi biarkan menjadi konvensi, seperti pegawai Departemen Dalam Negeri yang mengenakan baju batik pada hari Kamis dan Jumat, atau pegawai dari instansi lain yang berbatik-ria pada setiap hari Jumat.
"Itu bukan instruksi resmi dan tertulis, tetapi menjadi konvensi. Kalau ada Hari Batik Nasional, saya juga setuju," kata rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Terlepas dari itu, UKP akan menyambut pengakuan UNESCO terhadap batik itu dengan menggelar karnaval batik pada tanggal 2 Oktober itu yang dilepas dan diikuti Wali Kota Surabaya Bambang D.H. mulai dari halaman gedung T kampus UKP hingga ke gedung P dengan melewati Jalan Raya Siwalankerto.
Sementara itu, Jurusan Arsitektur Interior di Universitas Ciputra (UC) Surabaya juga merayakan pengakuan UNESCO terhadap batik itu dengan menggelar pameran produk desain batik dan mewajibkan dosen, karyawan, dan mahasiswa mengenakan baju batik pada tanggal itu.
Gubernur Jatim, Soekarwo dalam waktu dekat mengeluarkan surat edaran mengenai kewajiban memakai batik bagi kalangan PNS di Provinsi "Bumi Majapahit", Sebagai tindakan pendahuluan, kebijakan itu akan diterapkan mulai 12 Oktober 2009, bersamaan dengan puncak peringatan Hari Jadi Pemprov.
Senin, 05 Oktober 2009
Tanggap Gempa

Semua harus siap siaga karena bencana gempa belum berakhir. Untuk itu, penyebarluasan informasi tentang ancaman bencana diperlukan sebagai upaya antisipasi agar jumlah korban dapat dieliminasi.
Di sisi lain, masih banyak pemerintah daerah yang tidak tahu ancaman bencana dan kerawanan bencana di daerah masing-masing.
Selain itu, saat ini perlu segera dilakukan evaluasi skala nasional menyangkut kondisi geologis dan kondisi bangunan-bangunan di setiap wilayah.
Demikian antara lain yang terungkap dari sejumlah wawancara yang dilakukan Kompas, Sabtu dan Minggu (3-4/10), dengan Direktur Humanitarian Forum, yang juga anggota Presidium Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Hening Suparlan, Ketua Tim Kajian Likuifaksi dan Tanah Longsor Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Adrin Tohari, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Surono, dan Kepala Bidang Geodinamika Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Cecep Subarya.
”Semua orang harus paham akan ancaman bencana yang ada di sekitarnya sehingga mampu hidup bersama situasi bencana tersebut,” ujar Hening menjelaskan.
Individu harus paham
Hening menegaskan, semua individu harus paham sehingga bisa mengantisipasi bagaimana saat terjadi gempa.
Individu tersebut, pertama, harus mampu melindungi dirinya sendiri. Kedua, harus menginformasikan kepada keluarganya bagaimana melindungi diri mereka. Ketiga, harus mampu melindungi harta bendanya.
”Mengingatkan keluarga itu penting karena mungkin saat bencana datang, ia tidak bersama keluarganya. Mungkin istri atau suami di tempat lain, anak di sekolah, lalu mereka itu harus bagaimana. Ia harus memberi tahu bagaimana cara-cara penyelamatan diri. Soal harta benda, misalnya mereka lalu mengasuransikan harta bendanya, menyimpan barang-barang berharga dengan lebih aman, mengatur listrik agar tak mudah terjadi hubungan pendek, mengatur jalur evakuasi di rumah, dan lain-lain,” ujar Hening.
Hal senada dikatakan Surono. ”Untuk itu, butuh kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemerintahan terkecil. Indonesia merupakan negeri rawan bencana sehingga perlu dibentuk bangsa yang mampu merespons bencana dengan benar,” katanya.
Tugas memberikan informasi secara luas kepada publik ada di tangan pemerintah daerah. Masalahnya, kata Hening, ”Masih jarang pemerintah daerah yang mengerti ancaman bencana yang ada di daerahnya, termasuk bencana gempa.”
Ia mencontohkan, setelah terjadi bencana gempa besar di Yogyakarta tahun 2006, ada bupati yang langsung mencari tahu tentang kondisi daerahnya, tentang ancaman bencana di daerahnya, ke ITB. ”Ia tak ingin kejadian serupa terjadi di wilayahnya,” ujarnya
Kendala lain, kata Surono, adalah jarak kebijakan dengan dampak kepada masyarakat sering kali jauh karena saat penyusunannya belum tentu melibatkan masyarakat dengan baik. ”Kebijakan itu harus disusun bersama-sama masyarakat. Masukan dari para ahli sangat penting,” katanya.
Evaluasi segera
Adrin dan Surono menegaskan perlunya pemerintah daerah segera mengevaluasi kondisi wilayah masing-masing menyangkut kondisi geologis dan memeriksa struktur bangunan demi mengurangi risiko bencana.
”Demi keselamatan warga, evaluasi harus dilakukan segera. Kejadian di Padang dan Jambi patut menjadi pelajaran penting bagi daerah lain,” kata Adrin.
Surono menekankan, ”Belum terlambat bagi setiap daerah untuk memeriksa kondisi wilayah, terutama bangunan seperti hotel atau kantor yang biasa menjadi tempat berkumpul banyak orang.”
Ambruknya Hotel Ambacang di Kota Padang menjadi contoh penting perlunya analisis risiko segera dilakukan.
Kewaspadaan ekstra patut dimiliki daerah ”langganan” gempa. Getaran yang datang rutin secara teknis melemahkan struktur bangunan yang dirancang kuat sekalipun.
”Kasus Hotel Ambacang bisa jadi terkait gempa-gempa kecil sebelumnya yang rutin terjadi di Kota Padang, terutama sejak tahun 2005,” kata Adrin. Oleh karena itu, evaluasi berkala penting dilakukan pengelola gedung atau bangunan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, tata ruang yang tepat disesuaikan dengan kerawanan bencana gempa juga dibutuhkan. Saat ini, menurut Cecep, Rancangan Undang-Undang Tata Informasi Geospatial Nasional yang di dalamnya mengatur antara lain tentang perencanaan tata ruang wilayah nasional masih digodok di DPR.
”Yang saya khawatirkan adalah pelaksanaannya nanti kalau sudah disahkan. Siapa yang akan mengecek apakah UU itu dilaksanakan. Apakah izin mendirikan bangunan itu juga sudah menyertakan syarat yang sesuai dengan standar bangunan tahan gempa?” kata Cecep yang terlibat aktif pada penelitian Bakosurtanal tentang percepatan gerak tanah untuk memantau aktivitas lempeng tektonik.
Gempa terus terjadi
Surono menegaskan, gempa akan terus terjadi, sementara gempa dan karakter tanah adalah dua wilayah yang tak bisa direkayasa. ”Gempa pasti akan terus terjadi dan karakter tanah secara luas sulit diubah dengan teknologi. Alamnya sudah begitu,” katanya. Yang bisa dilakukan di antaranya menghindari membangun gedung di kawasan rawan gempa atau meningkatkan kualitas bangunannya.
Hening menyarankan, pemerintah daerah perlu merencanakan pemindahan daerah permukiman dan gedung-gedung publik yang berdiri di atas daerah sangat rawan gempa demi mengurangi risiko bencana, atau segera memperkuat konstruksi rumah atau bangunan sesuai standar bangunan yang tahan gempa.
Minggu, 23 Agustus 2009
Study Abroad
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menekankan kembali tentang negara tujuan rekomendasi studi, ke negara mana yang sebaiknya dituju.
Seperti diberitakan sebelumnya (Kompas.com, 22 Agustus 2009), Depdiknas memperingatkan para dosen universitas negeri dan swasta penerima beasiswa dari Ditjen Pendidikan Tinggi untuk mempertimbangkan plus-minus memilih perguruan tinggi di Australia karena pemerintah negara itu tidak membebaskan uang sekolah bagi anak-anak mereka.
"Saya menekankan sekali lagi bahwa untuk tahun anggaran 2010, saya harus memberikan rekomendasi tentang, ke negara mana yang sebaiknya dituju," kata Kabiro Perencanaan dan Kerja Sama Internasional Pendidikan Nasional Agus Sartono, Sabtu (22/8).
Mantan atase pendidikan dan kebudayaan RI di KBRI Canberra ini berharap, persoalan ini dapat segera dipecahkan. "Jika tidak ada alternatif lain, maka untuk menghindari komplain dari mahasiswa, kita akan membuat edaran ke semua perguruan tinggi di Indonesia," katanya.
Perlakuan Australia kepada anak-anak yang menyertai orangtua mereka melanjutkan pendidikan master dan doktor di negara itu dengan beasiswa Diknas RI, katanya, berbeda dengan apa yang diterima kelompok penerima beasiswa AusAID.
"Dari dua kelompok penerima beasiswa ini ada perbedaan yang mencolok, yaitu anak-anak dari penerima beasiswa Indonesia harus membayar tuition fee (uang sekolah) sekalipun mereka sekolah di sekolah negeri. Tidak demikian halnya dengan anak-anak dari penerima beasiswa AusAID," kata Agus.
Seperti diberitakan sebelumnya (Kompas.com, 22 Agustus 2009), Depdiknas memperingatkan para dosen universitas negeri dan swasta penerima beasiswa dari Ditjen Pendidikan Tinggi untuk mempertimbangkan plus-minus memilih perguruan tinggi di Australia karena pemerintah negara itu tidak membebaskan uang sekolah bagi anak-anak mereka.
"Saya menekankan sekali lagi bahwa untuk tahun anggaran 2010, saya harus memberikan rekomendasi tentang, ke negara mana yang sebaiknya dituju," kata Kabiro Perencanaan dan Kerja Sama Internasional Pendidikan Nasional Agus Sartono, Sabtu (22/8).
Mantan atase pendidikan dan kebudayaan RI di KBRI Canberra ini berharap, persoalan ini dapat segera dipecahkan. "Jika tidak ada alternatif lain, maka untuk menghindari komplain dari mahasiswa, kita akan membuat edaran ke semua perguruan tinggi di Indonesia," katanya.
Perlakuan Australia kepada anak-anak yang menyertai orangtua mereka melanjutkan pendidikan master dan doktor di negara itu dengan beasiswa Diknas RI, katanya, berbeda dengan apa yang diterima kelompok penerima beasiswa AusAID.
"Dari dua kelompok penerima beasiswa ini ada perbedaan yang mencolok, yaitu anak-anak dari penerima beasiswa Indonesia harus membayar tuition fee (uang sekolah) sekalipun mereka sekolah di sekolah negeri. Tidak demikian halnya dengan anak-anak dari penerima beasiswa AusAID," kata Agus.
Langganan:
Postingan (Atom)
Wassalam
Terima kasih atas kunjungannya. Jangan Lupa untuk meninggalkan Pesan dan Kesan. Kasih coment yach..... Sampai jumpa lagi.